Salah satu ketakutan pebisnis pemula adalah ide yang tercurahkan gagal dan justru menghabiskan modal. Untuk mengatasi ketakutan itu, sudah ada metode Lean Startup yang jauh lebih efisien.
Kehadiran metode ini sangat potensial karena mampu melakukan pengujian ide awal. Namun untuk menjalankannya, harus ada strategi yang tepat sampai akhirnya ada di keputusan pivot atau tidak.

Siklus Inti Metode
Pada dasarnya, siklus inti dari Lean Startup adalah Build-Measure-Learn. Ketiga inti ini secara langsung masuk ke tahapan pembuatan, pengukuran, sampai mempelajari. Tujuannya sendiri adalah untuk menghindari pemborosan riset.
Siklus yang sebetulnya tidak banyak ini justru mampu mempelajari kegagalan kecil untuk menghindari yang besar. Jadi jika ingin mengimplementasikannya secara langsung, bisa memakai tahapan berikut:
1. Membangun Hipotesis dan Validasi Pasar
Tahapan paling awal dari Lean Startup adalah membangun hipotesis serta validasi pasar. Bisnis harus mampu mengubah asumsi dari produk menjadi hipotesis. Arti dari hipotesis ini adalah dugaan masalah terkait produknya secara spesifik.
Lalu proses bisa berlanjut pada tahap wawancara ke target market. Tanyakan hipotesis yang sudah terbuat dan apakah masalah itu memang benar ada. Saat memang ada permasalahan yang sesuai, maka tahapan bisa berlanjut.
Melalui langkah ini, maka akan ada data apakah produk benar-benar mampu menyelesaikan masalah target pasar atau tidak. Lalu pastikan juga ada data apakah pasar mau membayar produk sebagai solusi pilihan.
2. Merilis MVP
Untuk tahapan selanjutnya adalah merilis MVP atau Minimum Viable Product. Buat produk dengan versi paling sederhana yang tidak menghabiskan modal. Lalu lakukan validasi pasar dengan melakukan uji coba.
Produk untuk MVP tidak harus banyak, konsepnya tidak harus sempurna, tapi wajib mencantumkan fitur-fitur pentingnya. Semakin baik penyebaran MVP ini, maka semakin cepat pula data riil dari target pasar terbentuk.
3. Mengukur Respon Pasar
Lean Startup akan berjalan baik saat data dari pasar sudah melalui proses pengukuran sistematis. Hasil pengukuran data bisa menjadi acuan dasar dan bukan hanya asumsi. Penulisan data ini juga harus jelas agar tidak hanya berbentuk opini lisan.
Ada beberapa matrik yang bisa menjadi acuan utama untuk pengukuran ini. Misalnya seberapa besar tingkat pemakaian, seberapa besar dampaknya, atau matrik lain yang masih berkaitan.
4. Belajar dari Data Riil
Data riil yang sudah ada juga tidak boleh hanya menjadi arsip bisnis. Justru pada tahap ini peran semua tim sangat besar untuk mempelajari datanya. Lakukan analisis secara transparan tanpa mengandalkan ego saja.
Saat semua aspek sudah menjadi bahan pelajaran, maka pembuatan keputusan baru bisa terjadi dengan produk yang sudah terbangun. Hal ini akan membentuk efisiensi modal startup tanpa harus mengorbankan banyak hal.
Kapan Bisnis Harus Pivot?
Langkah besar seperti pivot bisnis bisa terjadi saat hasil eksperimen MVP buruk berkali-kali. Namun, pivot ini tidak boleh mengubah visi besar dan hanya fokus pada langkah berani mengubah strateginya.
Pertumbuhan mendatar pada bisnis juga bisa menjadi indikator lainnya. Apalagi jika metode ini sudah berjalan secara terstruktur dan hasilnya masih sama, tidak ada salahnya mengubah arah bisnis di awal.
Justru semua pihak termasuk pelaku bisnis utama harus siap akan kemungkinan ini. Keras kepala pada produk yang punya data buruk hanya akan memberikan kerugian lebih besar di masa depan.
Penutup
Lean Startup adalah langkah strategik untuk menghadirkan solusi tanpa kerugian besar dan kemungkinan penolakan pasar. Langkah ini juga bisa menjadi metode belajar dan eksperimen termurah untuk pelaku bisnis pemula.

